Sadarilah Bahwa Kita Hanyalah Seorang Hamba Allah!

November 12, 2008 at 11:03 am (Renungan)

Wahai saudaraku, marilah kita bercermin!

Sungguh orang yang tidak mau bercermin adalah orang yang tidak tahu rupa dirinya. Tak ingin tahu telah rapihkah penampilannya, tak ingin tahu perlukah rambutnya disisir. Tak ingin tahu cantik atau tampankah wajahnya, tak ingin tahu adakah sesuatu yang mengotori tubuhnya, atau kalau-kalau wajah ini berlumur kebohongan dan kenistaan. Mungkinkah kita amat “PD” atau bahkan tak mau peduli dan masa bodoh akan kondisi serta penampilan kita?.

Tentu kita bercermin karena kita ingin tahu apa yang kurang pada diri kita, atau sebaliknya, apa yang menonjol pada diri kita. Kita berkaca karena ingin tahu apa yang masih kotor agar kita bisa bergegas membersihkannya, apa yang acak-acakan agar kita segera bisa menatanya, apa yang telah bersih agar kita bisa menjaganya dan apa yang sudah rapi agar kita tidak merusaknya.

Bila harus bercermin, maka janganlah berdiri jauh darinya agar citra kita tergambar sempurna dimata. Bila sudah didekatnya maka jangan memalingkan mata ke selainnya, karena itu bukanlah bercermin namanya.

Wahai saudaraku, kita semua tahu bahwa cermin itu ada yang bersih dan bening, juga ada yang kotor dan buram. Tentu citra kita akan terpantul sempurna pada cermin yang bersih lagi bening dan menjadi tidak jelas pada cermin yang kotor lagi buram. Lalu bagaimana kita bisa tahu kalau cermin kita itu bersih lagi bening bila tak suka memperhatikan dan merawatnya.

Pada hakikatnya, seluruh manusia adalah hamba Allah, baik yang percaya kepada Allah dan yakin kepada firman-firman-Nya (beriman) maupun yang tidak percaya kepada Allah dan ragu terhadap firman-firman-Nya (munafik dan kafir). Baik yang menghambakan diri dan berbakti (mengabdi) kepada-Nya maupun yang menghambakan diri dan berbakti kepada selain-Nya. Baik yang berusaha membersihkan dan menjaga kebersihan jiwanya maupun yang mengotori dan melumuri jiwanya dengan dosa dan kehinaan, apakah dia penghuni surga maupun penghuni neraka.

Karena hanya Dia pencipta, pemelihara, Raja dan kekasih yang dipuji, dipuja serta diagungkan oleh kita semua, sehingga hanya Dia pula yang berhak dan pantas dicari, dituju, dicintai, diabdi, disembah dan diibadahi. Tatkala kita mencari dan mencintai selain-Nya, berarti kita berselingkuh, mendurhakai dan mempersekutukankan-Nya dengan sesuatu yang amat tidak pantas dan tidak berhak. Tentu tidak sepantasnya kita berlaku sebagai tuan di bumi Allah sedangkan segala kebutuhan kitapun dipenuhi-Nya, bukankah ini sebuah kesombongan yang menghinakan?. Baik sekali bila kita mau koreksi diri, sudah benar dan baikkah penghambaan kita selama ini? Mari kita renungkan dengan seksama firman-firman Allah dibawah ini :

“ Wahai manusia, kamulah yang berkendak dan butuh kepada Allah, dan Allah yang maha kaya tidak memerlukan sesuatu, lagi maha terpuji. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Dan yang demikian itu sekali-kali tidaklah sulit bagi Allah.”

“Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah, maka diantara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah lah yang maha kaya sedangkan kamu adalah orang-orang yang membutuhkan-Nya dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu.”(QS. Muhammad,47:38)

“Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap tegas/keras terhadap orang-orang yang durhaka (ingkar, kafir), yang bejihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela (itulah karunia Allah), diberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah maha luas (pemberian-Nya) lagi maha mengetahui.” QS. Al Maidah,5:54)

“Wahai manusia, abdilah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu (orang tuamu, kakek buyutmu), agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah,2:21-22)

Wahai saudaraku, mengapa kita harus sadar diri sebagai hamba dan abdi Allah? Apakah kita cukup sekedar tahu bahwa kita adalah makhluk ciptaan Allah dan langit, bumi serta segala isinya diciptakan untuk kita sebagai bentuk cinta dan kasih saying Allah kepada hamba-Nya? Tentu tidak demikian wahai saudaraku, selama jiwa kita belum benar-benar sadar bahwa kita ini adalah hamba dan budak-Nya, tentulah kita belum disebut hamba Allah yang baik dan beriman. Kita dilarang menghambakan diri atau memperbudak diri kepada sesama makhluk baik itu manusia, berhala, hawa nafsu ataupun harta, jabatan, kekuasaan, popularitas dan lain sebagainya. Hanya kepada-Nya kita boleh meghambakan diri, memperbudak diri, karena itulah hakikat kemerdekaan diri. Untuk itulah semua, maka Allah mengutus para rasul dan menurunkan risalah agung dari sisinya yaitu Islam, rahmatan lil’alamin.

Apabila nafsu dan ego kita tidak tunduk dan patuh kepada risalah yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Sallallahu wa alaihi Wa salam niscaya kita akan tetap mengagungkan dan memuja nafsu atau ego kita atau sesuatu selain Dia.

Selama nafsu belum takluk dan menyerah terhadap pengaturan dan bimbingan hati nurani sebagai raja dalam kerajaan diri, maka jiwa tidak akan pernah tenang dan bahagia, karena dengan demikian berarti nafsu mengkudeta dan mengambil alih kerajaan diri serta mengangkat dirinya sebagai raja dan memenjara hati serta memperbudak jiwa. Mari kita renungkan sabda Rasulullah dibawah ini!! :

“Celakalah hamba dirham, celakalah hamba dinar, celakalah hamba pakaian(sutra), celakahlah hamba perut, celakalah dan terpuruk jika telah masuk tidak bisa dikeluarkan, jika diberi ia ridha, jika tidak diberi ia marah”. (HR. Bukhari & Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Mari kita perhatikan Firman Allah dibawah ini :

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagsi Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”. (QS. Al Jaatsiyah:23)

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya”. (QS. Al Furqon:43)

Kesadaran yang mendalam sebagai hamba Allah tentu akan mewujudkan satu sikap mental dan jiwa yang penuh keikhlasan, kepasrahan, ketundukan, pengorbanan dan ketawakalan sepunuhnya hanya kepada-Nya.

Bila kesadaran jiwa sebagai hamba Allah telah terbangun didalam sanubari niscaya akan membuat kita menyandarkan hidup dan menggantungkannya semata-mata hanya kepada-Nya. Kita tampil di dunia tanpa merasa bahwa segalanya dalam jangkauan kekuatan dan kekuasaan kita, melainkan hanya melihat bahwa semuanya membuktikan kekuatan dan kekuasaan Allah. Kesadaran jiwa itu juga yang membuat kita mencanangkan Allah sebagai tujuan atau pelabuhan terakhir hidup kita. Pada hakekatnya, kehidupan ummat manusia adalah sebuah perjalan, baik itu sadar maupun lalai. Perjalanan akan menggelisahkan dan menyesatkan bila tanpa tujuan yang jelas. Dan perjalanan yang paling mengasikkan adalah perjalanan kembali ke kampung halaman kita sesungguhnya, ketempat dari mana kita berasal. Karena Allah adalah asal sejati jiwa kita, maka perjalanan terindah adalah perjalanan menuju kepada-Nya, bertemu dan melihat wajah-Nya.

Mari kita simak firman-Nya yang agung dibawah ini:

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada penciptamu (Tuhanmu) dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hamba ku dan masuklah kedalam surga-Ku”. (QS. Al Fajar:27-30)

Wahai saudaraku, dengan kesadaran tadi, kita akan selalu berfikir dan waspada untuk selalu besikap sopan dan hormat kepada-Nya, karena kita sadar selalu berada dibawah bayang-bayang pengawasan-Nya yang maha teliti. Dia selalu menatap dan memperhatikan setiap gerak-gerik kita dari waktu ke waktu, tiada tempat yang tersembunyi dari penglihatan-Nya. Semoga cahaya petunjuk-Nya menjadi pemandu perjalanan hidup kita yang singkat ini. Sopan dan hormat di hadapan-Nya, berarti memelihara segala niat, tekad dan amal kita dari sesuatu yang tidak di ridhai-Nya.

Itu juga berarti kita harus menjaga hati kita agar tidak tertarik kepada jalan-jalan yang menyesatkan, kepada hal-hal yang menghalangi dan mengotori perjalanan hati kita menuju kepada-Nya. Hati yang kotor jauh dari cahaya Allah, sedangkan hati yang bersih adalah tumpuan cahaya Ilahi, cahaya yang menuntun hidup kita. Dengan bersikap sopan dan hormat dihadapan Allah, kita berarti telah memiliki satu kunci untuk menuai sukses dalam hidup di dunia dan akhirat. Kesuksesan hidup adalah kesuksesan melakoni perjalanan yang penuh duri lagi mendaki. Mari kita renungkan firman-firman Allah dibawah ini :

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah/hablum minallah dan tali (perjanjian) dengan manusia/hablum minannas, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan, yang demikian itu karena mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas”. (QS. Ali Imran:112)

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (QS. Asy Syu’ara:88-89)

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini menusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepaduku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan denghan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al Kahfi:110)

Wallahu’alam bishshowwab.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.